diskusiku dg salah satu blogger seputar film " PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN "

bagaimana menurut pendapat kita yang hidup dikalangan pesantren dengan adanya film " Perempuan Berkalung Sorban " ? . ternyata ada juga yang mendukung dengan keberadaan film tersebut . mereka anggap kehidupan pesantren itu sama dengan apa yang telah digambarkan oleh film tersebut.

suatu ketika , aku browsing di-internet dan menemukan sebuah blog yang mengulas tentang film itu . namun sayangnya , cara dia mengulas film itu seakan ikut membenarkan dg apa yg ada difilm itu tentang pesantren . wah ini ngga' bener , batinku . kalau ngga' segera diluruskan maka akan banyak pembaca yg akan menilai pesantren tradisional dg se-enaknya sendiri . maka segera aku kirim comment-ku yg agak panjang ( lihat diblog aslinya agar kalian bisa membaca semua yg dia tulis seputar film itu di :

http://alahadfamily.wordpress.com/2009/01/27/perempuan-berkalung-sorban/#comment-50 )


nah ini dia comment-ku atas nama abi al-khoir zakky nafis beserta jawaban pemilik blog sekalian :

_______________________________

abi elkhoir zakky nafis Says:

9 Maret 2009 at 3:33 am


salam semuanya .. semoga kita semua selalu menjadi baik dan sehat terlebih baik dalam hati . amin …

kenalkan namaku abi ( singkat aj ) .

aku orang pesantren salafy . . begini , langsung aja yah :


menurutku , baik pembuat novel atau pembuat film-nya dan baik kalian semuanya yg menulis postingan dan para comentator-nya , bagi saya tak ubah-nya seperti membicarakan isi rumah atau kamar saya tanpa pernah masuk dulu dan melihat apa sebenarnya yg ada didalamnya .


jika kalian bukan orang pesantren , maka bicara saja hanya pada yg ter-arah . jutaan pesantren tersebar , jutaan santri berhasil dan jutaan kyai yg baik , itu saja kenyataannya . kenapa keta’atan santri pada kyai di-urus ? kenapa keta’atan seorang anak pada ortunya dipermasalahkan ? .


saya tanya sekarang , apa santri ta’at pada kyai-nya dan anak menurut pd orang tuanya itu hal jelek ? apa para sahabat yg ta’at terhadap nabi itu jelek ? jutaan ulama sejak nabi wafat hingga kini , yg dalam perjalanan hidup mereka selalu membuat hati ibunya senang bahkan tak pernah membantah sekali-pun , dan selalu membuat hati guru mereka merasa bahagia , apakah itu bukan suatu rahmat dan ke-utamaan dari Allah ? bahkan buah karya para ulama2 banyak yg meneruskannya didalam hasanah islam . apakah beliau2 itu org jelek ? .


ok saya maklum jika kalian berpendapat sekarang jaman-nya sudah berbeda . saya tanya sekali lagi , apa-nya yg berbeda ? ingat … hati , akal dan nafsu itu ga’ kepengaruh dengan jaman apapun . maka jangan gara-gara 1 novel dan satu film sudah mengatakan bahwa banyak pesantren seperti itu dan banyak santri yg keluar pesantren salah dlm penyebarannya . dari sebagian tulisan diatas seakan paling bisa mensyi’arkan ilmunya dari pda santri tersebut .


keta’atan itu ada batasnya kok . semua santri juga tahu batasnya . jika untk ma’siat maka ga’ perlu ta’at . saya tanya sekarang , jika seorang kyai mendidik putrinya agar bisa seperti wanita2 islam yg sholehah dg cara yg tidak seperti kalian inginkan , lalu kalian mau apa ? toh itu bukan keluarga dan putri kalian kok . kita berkaca aja pd diri kita sendiri . bagaimana kita menghadapi orang tua kita terlebih pada ibu kita . terkadang sang ibu ketika mendapatkan perlakuan anaknya yg kurang enak dihati beliau , sakit hati beliau namun ga’ diperlihatkan pd anaknya . takut nantinya dibantah lebih parah lagi .


jadi , mari kita sama2 menengok orangtua kita , anak-anak kita , dan kita didik dg cara kita masing2. asalkan baik , insyallah berhasil . sebab cara kita belum tentu sama cara orang lain . jadi baik masalah gender dan emansipasi atau pergaulan luas hanyalah pembahasan khusus orang yg terbuka dan mengerti siapa dirinya saja .


itu saja dulu yang aku sampaikan dari kalangan pesantren . dan jujur , jika kalian punya bukti tentang ada santri yg merasa terpasung dg doktrin orang tua dan kyai nya , maka saya juga punya bukti banyak dan bahkan lebih banyak dari bukti yg kalian punya bahwa mereka merasa fine-fine aja , bahkan merasa bersyukur atas didikan beliau2 . mari kita belajar untuk membahas kasus individu dan per-golongan . agar ga’ kemana2 .


salam


abi



________________________________



??? Says:

11 Maret 2009 at 3:05 am

Assalamualaikum Pak Kiyai Abi yang baik,


Sebelumnya mohon maaf ya,semoga kita dapat bersilaturahmi dengan hati yang bersih dan berpikir positif.


Sebenarnya tulisan saya di atas adalah ekspresi surprise saya pas habis nonton PBS.Surprise? Ya! eh, org kita sdh mulai berani melangkah membuat film ala Holywood ya ? Yakni, membeberkan suatu cerita kasus dalam layar lebar yang resikonya lebih besar banget dalam menuai reaksi ( spt film barat yg suka menyorot ke dalam bilik gereja, gedung putih, dsb. dengan versi sutradara)


Walaupun dari pertama saya sudah memperkirakan akan heboh, seperti yg dikhawatirkan Tirta itu, dan kemudian disambung o/ suaminya yg langsung komentar tanpa ingin menontonnya samasekali, Kenapa saya bersyukur? Dari rasa cinta saya kepada agama saya yg dari pemahaman saya sungguh sangat sempurna dan detail dalam menuntun kita beraktivitas kehidupan di dunia ini demi mencapai kehidupan akhirat yg kekal dalam kebahagiaan.


Hal ini menyebabkan saya prihatin berkepanjangan memperhatikan saudara sebangsa setanah air yang menurut data statistik mayoritas pemeluk agama yang maha sempurna ini, tetapi dalam kenyataannya perilaku keseharian dalam berkehidupan sosial , kenapa kok hanya sekian persen saja yang dapat konsisiten menjalankan hidup sesuai panduan agamanya?


Yg membuat saya lebih prihatin , kebetulan saya bekerja dilingkungan yg disebut” Al kafirun” o/umat kita ( krn mereka tidak peduli dengan agama) . Tetapi dlm hal berperilaku kehidupan, loh?! Kok banyak ajaran nabi mereka terapkan dengan tertib dalam kehidupan kesehariannya? Misalnya, dalam hal makan dan minum, waduh! saya bisa dipandang dengan pandangan aneh bila jalan sambil mengunyah camilan.Dalam pakem mereka, makan itu dalam posisi duduk.


Mereka sebenarnya pusing dengan model standing resepsi. Dalam hal penggunaan fasilitas kantor,tanpa harus sibuk diawasi & diperingatkan o/ atasan, dibandingkan dengan kita yg staf indonesia(termasuk saya), mereka sama sekali tidak menggunakannya u/ kepentingan pribadi (telpon, komputer, kertas, alat tulis,mobil,dll).Mereka masing masing disiplin terhadap dirinya sendiri dalam hal kejujuran mematuhi aturan.Mereka cenderung tidak sibuk dengan urusan orang lain, pakem budi pekertiitu sendiri yg jadi kontrol hidup mereka. Antar mereka terbina rasa malu dan rasa malu pada lingkungan ini yg menguatkan hatinya saat ingin berbuat beda yg menyalahi aturan.



Keseharian saya bersama mereka membuat saya semakin penasaran dalam usaha menginstrospeksi diri berkaitan dengan aturan hidup ini. Saya merasa aturan dlm agama saya jauh lebih sempurna dan punya tujuan akhir. Seandainya saja umat islam ini pada disiplin dalam menjalankan aturan yg dituntunkan Allah melalui nabinya….Subhanallah! betapa tidak akan ada yg melecehkan kita, betapa akan menjadi pemandangan yang menakjubkan bagi mereka, betapa mereka makin ga’ punya alasan u/ tidak mengakui Allah Sang Pencipta.


Berkutat lama keprihatinan ini pak . Darimana ya kita harus memulainya?! Memang sebenarnya adalah dari kita sendiri. Dalam pemikiran saya, seseorang bila telah merasa melakukan suatu hal dengan sempurna, maka tidak perlu lagi mendengar koreksi,kritik, saran atau melihat pekerjaan orang lain. Tidak ada hal yang perlu diperbaikinya. Tetapi bila kita menyadari bahwa tidak ada pekerjaan manusia ini yang sempurna bundar(walaupun aturannya sangat sempurna) maka walaupun sepahit, semelenceng dan setidak akuratpun kesan atau kesimpulan orang terhadap kiprah kerja keras penuh dedikasi kita dalam mensosialisasikan suatu aturan,bila kita sikapi dengan semangat bergerak maju memperbaiki demi membuktikan atau menghapus citra yg belum sempurna, secara terus menerus bereaksi positif menuju kesempurnaan demi munculnya Aura umat islam yang sempurna, itu adalah jauh lebih baik.



Maksud saya dalam tulisan di atas, ayolah kita sikapi bersama film atau novel tersebut dengan jiwa terbuka, berani dengan jujur mengakui ketidak sempurnaan kita dalam mensosialisasikan ajaran yang sangat sempurna ini. dengan sportif kita perbaiki sehingga yang sampai kepada umat penghayatan dan penerapannya lebih terpancar dalam perilaku hidupnya.


Bukankah kita seharusnya bersyukur ada yang berani dengan sembarangan membuat gambaran yg sangat ga’ mewakili pesantren kita pada umumnya dalam sebuah tontonan yg terbuka begitu? Ayo cepat cepat kita buktikan bersama dalam berperilaku sosial, sebagai bentuk pembuktian kita bahwa yang telah kita ajarkan dan contohkan kepada umat ini sudah maksimal sesuai dengan ajaran nabi.



Ayo kita bahu menbahu, bersama sama menunjukkan kepada dunia bahwa umat islam tidak hanya pandai berdzikir, mengingat keagungan Allah hanya dalam lisan, tetapi mengekspresikannya pula dalam perilaku kehidupannya. Ayo kita bantu dedikasi dan keikhlasan para Kiyai dan ustadz yang telah berusaha keras menuntun kita menjadi muslim yang kaffah! Ayo semangat pak Kiyai Abi! Semoga pak Kiyai dapat memahami perasaan cinta saya pada agama saya, islam.


Semoga semangat silaturahmi sesama muslim tetap terjaga dengan saling mengingatkan demi kecintaan kita pada Allah SWT.Amiin



________________________



abi elkhoir zakky nafis Says:

11 Maret 2009 at 7:57 am

salam mbak / ibu ?? hs yg terhormat .

semoga anda beserta keluarga senantiasa mendapat rahmat Allah SWT . amin .

untuk melanjutkan diskusi kita yg memang berlandaskan persaudaran se-iman . maka saya garis bawahi bahwa sejak awal saya pahami tulisan anda di-atas itu . apalagi anda bilang tulisan itu hanyalah ekspresi surprise dg jalan cerita film PBS itu . betulkah begitu ?


pada awalnya memang anda betul2 menunjukkan ke-surpise-an anda dg film itu . dan penilaian anda masih terfokus pada sekitar film itu . ibarat dalam ilmu tata bahasa , anda tepat dg menggunakan istilah ma’rifat ( tertentu dan terfokus pada satu masalah atau benda ) . namun setelah ditelusuri dan dibaca lagi , tulisan dan penilaian anda sudah menjurus kepenilaian secara umum . dalam tata bahasa juga disebut ‘nakiroh’ .


nah itu yg membuat saya berani menulis comment disini . ini bukan masalah kita harus jujur mengakui ketidak sempurnaan kita atau bukan. sampai kapanpun , iya , sampai kapanpun yg namanya manusia tak akan bisa sempurna menjalankan syari’at2 islam . itu karena manusianya aja .


tapi yg saya masalahkan adalah anda menulis tentang tatacara para kyai dan ustadz didalam metode pengajarannya sedetail mungkin yg kalau diamati tanpa saya sadari sebelumnya sudah lepas dg film itu sendiri . seakan bahasa anda melenggang dg enjoy-nya menguliti apa yg dilakukan para ustadz dan kyai dipesantren dan luar pesantren . kita lihat kalimat anda pertama saja :


* ” Film berat yang patut ditonton oleh kalangan Pesantren ” komentar saya begitu selesai nonton film ” Perempuan Berkalung Surban ” . Saya berharap akan ada banyak lagi yang secara terbuka (seperti yang ditontonkan dalam film tersebut) mengkritik dengan tujuan membangun ke arah yang lebih baik dalam menanamkan pemahaman nilai nilai islam di dalam pesantren " .



lho ? ada apa dg pesantren didalam benak anda ? hingga anda berharap . sekali lagi berharap , ada orang lain yg berani mengkritik pesantren . seakan anda itu sudah sangat yakin atas kesalahan internal dipesantren . kenapa berharap ? . sebegitu yakin-kah anda dg kesalahan yg digambarkan difilm itu terhadap pesantren , kyai dan para ustadz ? .


kita lihat lagi kalimat anda :


“ Hal ini kalau mau jujur, masih banyak dilakukan oleh pesantren pesantren tradisional yang merasa ilmu yang disampaikannya sudah sempurna , tidak perlu membuka pengetahuannya dengan menengok ke dunia luar yang semakin komplek urusan keduniaannya “ .


nah saya tanya anda sekarang . kalimat itu apa sebuah ekspresi surprise film atau sudah penilaian anda saja terhadap pesantren ? apakah itu bukan suatu perbuatan ‘ su’u dzon ‘ /prasangka kurang baik saja . berapa pesantren sih yg anda kenal ? ingat , anda telah menggunakan kata “ masih banyak “ berarti itu ungkapan jama’ yg jumlahnya tidak terbatas .


terus anda bilang :


“ yang merasa ilmu yang disampaikannya sudah sempurna “


wah , itu sebuah prasangka yg kurang baik . harus dibuktikan itu . sebab metode menuju islam secara kaffah ngga’ Cuma satu . belum lagi urusan perasaan , maka hanya orang itu dan Allah saja yg tahu ( anda tadi bilang kata-kata ‘merasa’ kan ? nah , itu jelas urusan hati ).


Saudariku ?? hs yg terhormat … saya tambah sedikit lagi . pada kata-kata anda yg lain :


“ tidak perlu membuka pengetahuannya dengan menengok ke dunia luar yang semakin komplek urusan keduniaannya “



lha ? terus enaknya para kyai dan ustadz disuruh kemana ? apa harus dg keluar dan bercampur dg dunia luar ? apa anda tak kawatir jika para kyai nantinya jadi tergoda oleh urusan duniawi ketimbang akhirat sejak ikut keluar bercampur dg dunia luar ? ok , saya tahu maksud anda ga’ segitunya . tapi saya yakin kok para kyai dan ustadza insyallah sudah menyadari akan menghadapi dunia yg semakin kompleks ini .

Nah , itulah saya katakan tulisan anda itu tak tepat jika dikatakan ekspresi surprise film PBS sepenuhnya . tapi lebih banyak penilaian terhadap internal pesantren dan para kyai dan ustadz2nya . sekian saja dan saya minta maaf . dan sama dg anda , tulisan ini bukti rasa hormat saya pada seluruh tokoh2 islam yg dg sepenuh hati berjuang dijalan Allah . tak terkecuali termasuk dimajlis ta’lim anda tentunya .

salam – Abi .


_____________________________




?? Hs Says:

11 Maret 2009 at 9:11 am


Pak Kyai Abi yth,


Terimakasih banyak, saya sangat menghargai perhatian anda. Semoga ini menjadi pembelajaran yang baik untuk saya agar lebih berhati hati dalam bertutur,menulis maupun bertindak. Melalui tulisan ini pula saya sampaikan maaf saya setulus hati atas kesembronoan saya kepada seluruh jajaran pesantren dengan para Kyai dan ustadznya. Mudah mudahan semuanya berkenan mendoakan saya agar menjadi umat yg lebih menghormati gurunya. Mohon maaf lahir bathin



_______________________

nah , itulah lengkapnya .... semoga bagi para pembaca artikel-ku ini , bisa membuka wawasannya tentang pesantren beserta beserta para profile-2 didalamnya , yang sama sekali tak sama dg apa yg ada difilm itu .

thanks - abi

Comments

Popular posts from this blog

KISAH NYATA MEYAKINKAN SILSILAH DG CARA SPIRITUAL

GUS 'UD ( kyai ali mas'ud )

Kisah Unik : Sayyid Arif segoropuro & Sayyid Sulaiman Kanigoro